Top Social

/esvi:ai/

Hentikan.

October 9, 2018


Sesungguhnya aku tak suka memotong orang lain saat mereka bicara. Juga tak suka harus menyiapkan  rentetan 10-20 kalimat yang akan meluncur tanpa henti begitu lawan bicara hendak menarik napas.

Tapi aku bisa apa?

Mereka selalu berbicara. Tanpa henti. Tanpa memberikan kesempatan.

Diskusi atau debat kusir?

On the Platform

June 23, 2018

"Jump. How it feels like?" my mind started to wander.

"Nah. I just need to step. Two steps. Will it hurt? But I don't like to get hurt."

"Maybe they're wrong. Maybe, there is nothing in the afterlife. There is no afterlife. We will just disappear."

Breakup Formula

January 28, 2018


You were crying. Right in front of me.
Begging for love.
Her love. 

You were crying. Right in front of me.
When it's time for me to leave.
When it's time for you to cry for me.
For my love.

Dongeng dari Negeri Bola [REVIEW]

October 30, 2017

Seperti tergambar dari judulnya, membaca buku ini terasa seperti mendengarkan penulisnya mendongeng, dus judul buku ini. Setiap tulisannya terasa dekat, padahal saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di tanah Inggris.

Dalam setiap cerita, kita akan diajak masuk perlahan ke inti cerita, disajikan berbagai detail dan latar belakang kisah, hingga akhirnya kita percaya, "ah iya, memang benar pasti begitu ceritanya", untuk kemudian dihempas dengan satu punchline yang membuat kita ingin teriak "GRAAH!" Saya suka sekali dengan gaya menulisnya. Saya harus lebih banyak membaca tulisan Mas Dalipin, untuk mempelajari gaya menulisnya.

Dalam sebuah cerita yang berjudul "Hilangnya Sebuah Kepastian", penulis mengisahkan tentang gemparnya media Inggris saat Sir Alex Ferguson memutuskan untuk mundur dari posisinya di Manchester United. Diceritakan oleh penulis bahwa "program khusus dan eulogi ditayangkan layaknya iringan prosesi kematian", padahal "bahkan yang meninggal pun tak pernah mendapat porsi pemberitaan sebesar ini."

Selesai dengan Diri Sendiri

October 27, 2017

Selama belasan tahun menempuh pendidikan jalur formal, saya selalu menjadi salah satu yang paling muda dengan prestasi yang cukup memuaskan. Beberapa kali tentunya saya “kecemplung” masuk ke lingkungan di mana saya berada di baris paling belakang, namun saya tidak pernah merasa putus asa, karena saya memiliki rasa percaya diri yang tinggi bahwa saya bisa melampaui mereka dan pada akhirnya itu hampir selalu terbukti.

Kepercayaan diri tersebut juga membuat saya tidak pernah memiliki keraguan jika ditawari kesempatan untuk berpindah ke tempat yang baru atau menjelajah ke berbagai bidang baru. Bahkan saya selalu mencari-cari kesempatan itu, untuk memulai semuanya dari nol dan dengan penuh keyakinan siap melangkah ke atas.

Saya bahagia dengan semua hal baru yang bisa saya pelajari. Saya bahagia berada di tempat baru dan melihat berbagai tingkah manusia yang ajaib. Meski sempat “mengemis” beasiswa dan menghadapi kesulitan di sana-sini, saya tak pernah kehilangan keyakinan kalau saya pasti bisa dan, mungkin dengan penuh kesombongan, saya tak pernah merasa takut.

Yakin Mau Nikah?

September 21, 2017


Lo tau ga sih kalau menikah tuh konsekuensinya besar? Katanya ya saat ijab kabul diucapkan langit bergetar saking beratnya tanggung jawab yang dipindahkan dari seorang ayah kepada suami.

Gue sih penasaran aja kalau hari Sabtu atau Minggu, di langit gempanya berapa Skala Richter ya?  Mau jalan ke Mal Khayangan aja susah, jalanan rusak karena gempa.

Bayangin kalau kita jadi makhluk langit, lagi tenang-tenang, siap-siap mau tidur siang ....

Tiba-tiba "Saya terima nikahnya.." dan gemuruh keluh kesah makhluk langit pun terdengar, "Bungcuuuuudh! Ini siapa sih bikin gempa siang-siang?!"

"Ini hari apa sih? Oh iya Kamis. Pada mau 'sunah Rasul' ya malam Jumat? Cieeeee ...."

Hingga pada suatu masa, dengan kepadatan penduduk dunia yang semakin meningkat, persaingan untuk mendapatkan gedung nikah pun semakin berat. Akhirnya FPI ngadain Aksi Nikah Masal Akbar seluruh Indonesia (iya tahu, redundant, bodo amat).

Kasih Ibu

April 24, 2017

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.”
Dua puluh satu bulan sudah anak saya hadir di dunia ini, selama dua puluh satu bulan juga saya berhasil menghindar dari menyanyikan, apalagi mengajarkan, lagu ini kepadanya. Bukannya tidak sayang, saya sayang kepada anak saya tentunya, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.