Top Social

Siapa Cepat Dia Dapat (SCDD)

July 6, 2014
Suatu metode yang diakui sebagian besar orang sebagai metode yang cepat dan tepat untuk memberikan akses atas sebuah produk kepada massa. Ga percaya? Lihat saja sistem penjualan tiket bioskop. Siapa cepat, dia dapat kan? Kamu ga diseleksi dulu kan untuk bisa nonton bioskop? Asalkan mampu untuk membelinya, maka kamu akan mendapatkan tiketnya. 

Jika orientasi dari sebuah sistem itu adalah materi, maka metode SCDD, menurut saya, adalah sebuah metode yang sudah sangat matang dan tak perlu dikutak-katik lagi. Semakin cepat materi bisa didapatkan semakin senanglah para penjual.
Tapi, bagaimana jika orientasi sistem tersebut bukanlah materi? Apakah metode SCDD adalah sebuah metode efektif? Apakah metode ini adil?
Untuk menjawab ini, saya ingin mengungkapkan beberapa asumsi terlebih dahulu. Pertama, saya berasumsi kalian percaya Tuhan itu ada. Kedua, saya berasumsi bahwa Tuhan itu Maha Sempurna dan Maha Adil. Ketiga, saya berasumsi bahwa surga dan neraka itu ada. Dan keempat, saya berasumsi bahwa untuk masuk surga, timbangan kebaikan kita harus lebih berat dari keburukan.
Dengan asumsi-asumsi tersebut, maka metode SCDD bukanlah sebuah metode yang adil. Mengapa? Simpel saja, karena syarat untuk menikmati surga bukanlah dengan mati duluan. Saya rasa Tuhan ga butuh uang, makanya Dia tidak menggunakan metode SCDD.
Dengan asumsi Tuhan adalah yang Maha Sempurna dan Maha Adil, maka metode apapun yang dipilih Tuhan, pastilah metode yang paling sempurna. Dan pasti Tuhan sudah berpikir masak-masak sebelum menentukan metode yang paling sempurna untuk membagikan tiket surga kepada ciptaan-Nya.
Jadi, kalau kita tidak sedang mengejar materi, sebaiknya metode SCDD dihindari sebisa mungkin. Karena menurut saya sistem tersebut tidak adil.
Lalu bagaimana jika kita dikejar waktu untuk membagikan akses atas suatu produk? Tidak mungkin kan kita membentuk tim Rakib dan Atid dulu.
Ada sebuah solusi yang menurut saya sedikit lebih adil dibanding SCDD, yaitu SCDD v2.0.
Apa pula itu, BAH?!
Metode SCDD memiliki dua bug utama. Pertama, hanya mereka yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang tepat yang bisa mengambil tiket. Kedua, metode SCDD mendorong orang untuk mengambil tiket tersebut, apalagi jika gratis.
Bug pertama rasanya sudah cukup jelas. Sedangkan untuk bug kedua, maksudnya begini, katakanlah saya dihadapkan pada sebuah undangan untuk nonton bioskop gratis dengan metode SCDD. Tanpa pikir panjang saya akan mengambil tiketnya. Kenapa? Karena kalau saya pikir panjang-panjang, bisa-bisa tiketnya sudah lenyap karena diambil oleh mereka yang pendek, eh maksudnya berpikir pendek. Jadi, daripada menyesal kemudian, lebih baik saya ambil saja dulu tiketnya. Masalah dipakai atau tidak, itu urusan belakangan.
Sekali lagi saya tekankan, jika materi adalah tujuan utamanya, maka kedua bug itu malah berubah menjadi keunggulan :)
Nah, SCDD v2.0 berusaha memperbaiki bugs tersebut dengan menyediakan informasi mengenai acara DAN keterangan kapan metode SCDD akan dilaksanakan. Dengan demikian, ada cukup waktu bagi informasi ini untuk mencapai orang – orang yang tepat. Faktor ini tidak membuat SCDD v2.0 menjadi metode yang adil banget, tapi setidaknya selangkah menuju kondisi ideal lah.
Seandainya saya tidak membutuhkan uang dan akan membagikan album limited edition saya kepada para penggemar sejati suara saya, saya akan memilih metode SCDD v2.0. (Waktu saya terbatas karena harus mempersiapkan album dan konser-konser berikutnya). Saya akan mengumumkan terlebih dahulu deskripsi album, ada berapa lagu di album itu, saya akan berduet dengan siapa saja, saya sarapan apa sebelum rekaman, dan tentunya yang terpenting, kapan mereka bisa mulai nge-twit untuk mendapatkan album tersebut. Berapa lama saya biarkan informasi itu berkeliaran sebelum saya membuka penjualan? Tentunya kembali kepada riset saya untuk menilai berapa waktu yang dibutuhkan oleh informasi itu untuk sampai di telinga para penggemar saya.
Gitu aja sih.
Post Comment
Post a Comment