Top Social

Belajar Matematika dari Media Sosial

September 22, 2014
Sewaktu kelas dua SD, saya pernah tertunduk malu dan sedikit dendam pada wali kelas saya saat itu karena buku latihan Matematika saya dilempar di depan kelas. Kesalahannya terlihat sepele, saya me-latin-kan angka 0 sebagai kosong. Berkali-kali guru saya sudah menjelaskan bahwa nol tidak sama dengan kosong,
namun karena otak saya yang bebal dan kebiasaan di rumah mengucapkan kosong, bukan nol, maka, di latihan hari itu saya kembali menuliskan kosong. Hingga hari ini, peristiwa itu masih begitu membekas di pikiran saya dan sebisa mungkin saya tidak menukar-nukar nol dan kosong dan diam-diam berjanji akan mengajarkan perbedaan nol dan kosong kepada anak saya, agar buku tulisnya tidak ternodai debu lantai kelas.
Apakah Anda tahu bedanya nol dan kosong? Jika anda tidak tahu, hampir pasti Anda bukan lulusan jurusan Matematika dan, kemungkinan, hanya mengingat kenangan bermain kasti selama SD dan melupakan pelajaran-pelajaran dasarnya.
Kejadian yang mirip menghebohkan orang-orang yang saya ikuti di media sosial beberapa hari belakangan:


Saya melihat banyak orang yang mem-bully guru malang yang memberi nilai 20 untuk PR anak tersebut. Beberapa alasan yang diungkapkan para pendukung murid tersebut adalah:
  • sifat komutatif perkalian, di mana 3 x 4 = 4 x 3 = 12,
  • kekejaman guru tersebut dalam memberikan nilai, tanpa memberi poin sedikitpun untuk hasil yang benar,
  • gurunya asal coret tanpa memberikan penjelasan.

Guru tersebut saya katakan malang, karena penilaiannya yang digembar-gemborkan di media dan menjadi bahan cacian tentang kebrobrokan pengajaran di Indonesia. Namun, jika saya menjadi guru, sayapun akan memberikan nilai yang sama untuk anak tersebut (dan menulis surat balasan untuk kakaknya agar menyempatkan diri duduk di pelajaran saya). Mengapa?
Menurut saya, orang-orang yang protes kurang mengerti apa yang ingin diajarkan oleh guru tersebut dan, mungkin, sudah terlalu terbiasa menikmati rumus-rumus singkat dan cepat yang diajarkan di bimbingan-bimbingan belajar. Selain itu, meski datanya tak cukup untuk menyimpulkan ini namun izinkan saya mengambil kesimpulan cepat, mereka juga adalah orang-orang yang sok peduli dengan proses, namun sejatinya hanya peduli pada hasil.
Maaf kalau saya berlebihan, perihal pelajaran SD membuat saya sentimentil, karena di masa tersebut saya benar-benar menikmati proses mempelajari hal-hal baru yang menarik dan belum saya ketahui.
Dengan hanya berbekal pada satu gambar kertas tersebut dan tidak mengetahui bagaimana sifat guru, sistem pendidikan di sekolah, dan kualitas murid, saya tidak ingin membahas terlalu jauh aspek sosial yang bisa terjadi, seperti misalnya si anak yang jadi minder, atau guru yang kejam dan tidak becus menjelaskan, atau betapa tidak efektifnya harus menjelaskan satu-satu di setiap kertas PR murid. Saya hanya ingin meluruskan bahwa 3 x 4 = 4 x 3 = 12, namun pola penambahan 3 x 4 dan 4 x 3 itu berbeda.
Sebagai seorang yang pesakitan waktu kecil, saya sering kali melihat label yang tertera di bungkus obat. 3 x 1 sebelum makan, biasanya demikian. Pernah juga saya melihat obat dengan label 1 x 3, biasanya di obat tetes mata. Nah, 3 x 1 tentunya berbeda dengan 1 x 3. Dengan instruksi 3 x 1 berarti kita harus meminum obat tersebut tiga kali sehari, masing-masing 1 sendok makan/pil/tablet. Sedangkan 1 x 3 berarti obat tersebut diminum hanya satu kali dalam sehari, namun langsung 3 sendok makan/pil/tablet. Berbeda bukan? Saya tidak tahu apa akibatnya jika cara pakai obatnya salah, tapi tampaknya selama tidak minum Pan*d*l 1 x 20, mungkin tidak akan terjadi apa-apa dan hanya berkurang efektivitas obatnya.
Hal lain yang mirip dan sering membuat saya kesusahan hingga saat ini adalah bentuk matriks. Matriks 3 x 4 dan matriks 4 x 3 sama-sama memiliki total 12 komponen, namun bentuknya berbeda. Matriks 3 x 4 memiliki 3 baris dan 4 kolom, sedangkan matriks 4 x 3 memiliki bentuk serupa papan tombol hp zaman dulu.

image

image
Itu hanya dua contoh yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak contoh-contoh lainnya yang bisa saya bahas, namun silakan gunakan kreativitas dan kecintaan Anda akan proses belajar untuk menggali lebih dalam.
Jika Anda memiliki adik yang sedang mempelajari bab ini, mungkin cara guru saya dulu mengajarkan ini bisa membantu Anda.
3 x 4 = tiga kali empatnya = 4 + 4 + 4.
4 x 3 = empat kali tiganya = 3 + 3 + 3 + 3.
Ya, tak heran kalau skor PISA matematika Republik Indonesia berada di urutan dua terbawah, hanya beda tipis dari Peru di posisi buntut.

p.s. Kalau Anda penasaran bagaimana soal-soal tes PISA, bisa dicoba sampelnya di sini.
Post Comment
Post a Comment