Top Social

Rindu Tak Harus Diungkapkan dengan Air Mata

April 1, 2015

Ah, pikiranku tak henti memikirkan rindu yang tak kunjung selesai, impianku yang kian bertumpuk setiap harinya, dan tentang dia yang lain, yang menyusup hadir dalam kehidupanku yang kacau balau. Setiap hari aku dipaksa menyaksikan putaran pikiran yang semrawut seperti keping DVD bajakan kotor yang kerap kali macet.

Hari ini sudah sangat melelahkan, tapi masih ada satu lagi kewajiban yang belum kutunaikan. Kewajiban yang juga menjelma sebagai hak. Aku harus menghubungi dia. Rasa kantuk dicampur rasa gengsi membuatku hanya menunggu dering telepon darinya sambil menahan peningnya kepala.
Kriiing... Kriiiing...
“Aloooo,” sapaan sok imutnya membuka sesi telepon kami malam ini.
“Halo,” balasku. Sebuah kata halo yang sebenarnya lebih ditujukan kepada diriku sendiri, halo jiwa, belum saatnya tidur, masih ada cinta yang ingin diungkapkan malam ini.
“Kamu ngapain aja hari ini?”
Kemudian aku pun menceritakan hariku duduk di kursi penumpang seharian. Membiarkan sang supir membawaku ke mana pun ia berkehendak. Usai mendengarkan ceritaku, ia pun menjawab dengan kisah hariannya. Hingga ...
“Sudah larut malam. Tidurlah. Kamu membutuhkan banyak istirahat.”
Dalam keadaan terkantuk seperti apapun. Aku selalu membenci bagian ini. Kata-kata penutup ini selalu mengingatkanku kalau kami tak sedang bercengkrama seraya berpandangan di bawah selimut yang sama. Sayangnya, jarak antara kami dikawal oleh luasnya samudera dan dataran gersang.
Kata-kata penutup ini selalu mengingatkanku akan keengganan hati dengan perpisahan kala itu. Betapa aku terpaksa mengukir senyum dan tawa di wajahku, hingga mata segarisku ini tak nampak lagi di malam terakhirku bersamanya. Air mata juga tak kuteteskan saat terakhir aku merasakan pelukannya. Semata karena harapan atas masa depan yang lebih baik yang saat itu ditawarkan oleh pertimbangan matang sang pikiran.
Logika memang tak seharusnya ikut campur dalam urusan cinta. Karena semenjak hari itu, hatiku terluka. Parah. Koyakan hati yang selalu ditaburi garam setiap malam oleh kata-kata penutup telepon itu bisa saja sembuh suatu waktu nanti, namun aku tak yakin ia pergi tanpa meninggalkan bekas.
Air mataku sudah mengalir deras. Sakit. Kukunci mulutku, agar isakan jiwaku tak terdengar olehnya di seberang sana.
Setelah mengambil napas panjang, kutahan suaraku agar tak bergetar saat berkata,
“Iya, aku sudah mengantuk. Selamat tidur.”
“I love you.”
“I love you too.”
Kemudian terdengar hening panjang meski telepon belum dimatikan. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Mungkin ia sedang merasakan hal yang sama denganku. Rindu ini terasa begitu memberatkan.
Air mataku mengalir semakin deras. Aku sudah mulai terbiasa dengan asinnya air mata yang hampir setiap malam aku nikmati hingga aku dipaksa tidur oleh tubuh yang kelelahan. Dia? Hanya diam. Mungkin mendengarkan dengan seksama, ingin tahu apakah aku menangis lagi? Karena jika aku ketahuan menangis lagi, ia akan siap dengan kalimat-kalimat bijaknya tentang bagaimana aku memilih untuk berpisah dengannya, tentang bagaimana ia akan mengganti waktu kebersamaan kami yang hilang ini, dan tentang rindu tak harus diungkapkan dengan air mata.
Ia mengucapkan kata – kata manis penuh cinta untuk menghiburku. Ia tahu aku diam-diam menangis. Ia selalu tahu. Aku ingin sekali berhenti menangis saat dia menghiburku. Tapi, alih-alih berhenti, air mata ini semakin kurang ajar, seenaknya menerobos pertahananku. Isakan yang sebelumnya masih bisa kutahan kini ikut bersuara.
“Bagaimana aku bisa tenang kalau aku harus mendengar tangismu setiap malam?” ujarnya.
Mengapa kamu membiarkanku pergi? Mengapa kamu membiarkan kesombonganku atas analisa kehidupan kita mengambil keputusan? Mengapa kamu tak benar-benar berusaha menahanku di sana? Ingin sekali aku menyalahkannya. Tapi aku tahu dia tidak salah. Dia hanya ingin aku bahagia dengan menuruti segala keinginanku. Sama sepertiku, dia juga harus menanggung rindu ini setiap malam.
“Aku tidak apa-apa. Aku bahagia di sini,” suaraku sedikit tersekat saat mengucapkan kalimat itu.
“Tolong aku, berbahagialah di sana. Mendengar kamu bersedih setiap harinya membuatku tak yakin dengan semua rencana yang sudah aku siapkan. Aku membutuhkan bahagiamu agar bisa tetap semangat menjalani semua ini,” suaranya terdengar basah.
Sedihku adalah urusanku. Tak seharusnya ia ikut bersedih karena urusanku. Kali ini sedihku harus mengalah. Aku harus mengembalikan bahagianya.
“Aku tak bersedih dan tak mau jadi penghalang dalam hidupmu. Yuk, ingat-ingat lagi rencanamu. Bagaimana kau akan berbahagia dan membahagiakan orang banyak dengan rencanamu itu. Bayangkan saja semua senyum yang akan kau ukir dengan rencanamu itu. Aku baik-baik saja dan akan ikut tersenyum dalam setiap hari baikmu. Kau tak perlu khawatir.”
Aku tahu air mataku ini tak akan berhenti mengalir hingga aku tertidur. Percuma saja kuperangi, karena hanya akan membuatku semakin kalah. Aku hanya perlu sedikit meninggikan suaraku dan membayangkan kebahagiaannya. Berperang dengan egoku sendiri yang sedang bersedih, karena aku harus membuatnya bahagia.
“Terima kasih kamu sudah menenangkanku. Aku hanya ingin kamu bahagia selalu. Rindu tak harus diungkapkan dengan air mata” katanya dengan nada yang sangat manis.
Setelah itu, ia pun mulai bersenandung. Lagu ciptaannya sendiri yang ia buat secara spontan. Banyak kata cinta, rindu, dan harapan di sana. Ia terus bersenandung beberapa lama, berharap bisa mengantarkan jiwaku beristirahat. Malam itu ia gagal. Senandung yang sering ia dendangkan untuk mengantarku tidur itu kali ini belum bisa menenangkanku. Hingga telepon ditutupnya, air mataku masih terus mengalir deras.

Aku ingin menghentikan air mata ini. Entah kapan aku bisa bertemu kembali dengannya. Entah kapan aku akan menjawab teleponnya lagi.
Post Comment
Post a Comment