Top Social

Darah Dara

July 8, 2015

Maafkan judul tulisan yang apalah banget ini. :) 
Mengapa wanita mengalami menstruasi dan nifas? Selain alasan ilmiah seperti proses dinding rahim meluruh dan sejenisnya, apakah ada alasan lain mengapa wanita mengalami menstruasi dan nifas. 
Di balik menstruasi dan nifas, saya percaya Tuhan sedang menyayangi wanita. Mengapa?

Kata orang, wanita lebih banyak menggunakan perasaannya dibandingkan lelaki. Sayangnya, perasaan itu kerap tak bisa diluapkan. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan pasangannya. Para lelaki tak jarang kesal saat wanitanya sedang meluapkan perasaan, entah itu dengan keluhan atau tangisan.
Nah, Tuhan menciptakan menstruasi lengkap dengan PMS-nya agar para wanita “lebih berani” mengekspresikan apa yang dirasakannya. PMS membuat perasaan terlalu berat untuk tidak diungkapkan. Anggap saja PMS seperti alkohol, membuat wanita kehilangan akal sehat dan bertindak berdasarkan perasaannya saja.
Keberadaan PMS yang (kurang lebih) sebulan sekali itu juga lebih bisa diterima oleh lelaki. “Ah, mungkin dia lagi PMS”, begitu pikir para lelaki saat wanitanya marah-marah pada sepatu baru tanpa sebab yang jelas. Para lelaki lebih bisa memaklumi karena ada alasan yang jelas dibalik ketidakjelasan sikap wanitanya. Lagi pula hanya sebulan sekali, apa salahnya membiarkan para wanita berekspresi sebulan sekali?
Kalau nifas?
Itu juga sebuah ungkapan sayang Tuhan. Para wanita yang baru melahirkan butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai sumber kehidupan seorang makhluk. Rasa sakit dan lelah karena proses melahirkan belum juga usai, sudah diserang sakit-sakit lain di berbagai penjuru tubuh. Mulai dari puting lecet karena anak bocah yang terlalu bersemangat tetapi belum menguasai teknik yang tepat, pinggang dan punggung nyeri karena harus tegak selama menyusui (buang saja bantal di belakang punggung, ga guna!), belum lagi leher yang pegal akibat sering-sering menunduk mengecek proses menyusui. Loh kok jadi curcol?!
Mungkin juga ditambah suami yang jadi cranky karena anaknya cranky. Atau bete karena semua orang tidur, tetapi kita harus nyusuin anak. Haha. Karena tanggung jawab ke anak dan suami susah dihilangkannya, akhirnya Tuhan mengalah. “Nih darah nifas, kamu ga usah mikirin shalat lima waktu dulu. Ga usah puasa dulu juga, karena kamu pasti kelaparan dan kehabisan tenaga”, mungkin begitu kata Tuhan.
Toh tanpa shalat sekalipun, saat punya anak saya malah lebih sering mikirin Tuhan. Saya benar-benar berharap Tuhan itu ada dan benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang, karena saya merasa kasih sayang saya saja tidak akan cukup. Saya benar-benar berharap ada suatu Zat yang bisa mengasihi dan menyayangi anak saya serta menjaganya dengan jauh lebih baik daripada saya.

Demikian lanturan tengah malam saya. Gitu aja sih.
Post Comment
Post a Comment