Top Social

Mantan, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

January 9, 2017

Jadi gue abis buka-buka catatan kegombalan partner (ya, gue punya diary, bodo amat, siapa tahu jadi buku), terus teringat pernah ada satu dialog seperti ini.
“Kalau kamu putus dari aku, enak amat yang jadi pacar kamu nanti, sudah susah-susah aku didik biar tambah cantik luar dalam, malah dia yang nikmatin hasilnya.”

Sebelum lanjut ngobrol tentang mantan, let me explain the meaning behind that sentence first. Jadi, gue ketemu sama partner gue ini sekitar tahun kedua kuliah. Nah, dari kecil sampai kuliah rambut gue tuh pendek. Pernah panjang sekali pas tahun pertama kuliah, tapi itu karena potong rambut di Turki tuh mahal dan gue ga ikhlas saja bayar semahal itu untuk potong rambut dikit doang.
Nah, pas awal-awal dekat, kita buat taruhan, gue disuruh manjangin rambut selama empat bulan (lupa hadiahnya apaan). Taruhan yang berujung dilupakan karena terlanjur dekat. Terus setelah dekat, dia pun mulai minta gue masak ini itu yang berujung pada gue sekarang (ngaku-ngaku) jago masak. Haha. Dan berbagai hal lainnya lah dia lakukan untuk membuat gue mirip orang normal. Hingga berujung pada kalimat itu. Demikian.
Mau tidak mau, jauh di lubuk hati, saya rasa semua orang tidak bisa memungkiri kalau mantan, seseorang yang pernah punya tempat spesial di hati kita, juga pernah memberikan hal-hal positif untuk diri kita. Entah karena memang dia orang baik yang ingin membuat kita jadi lebih baik, meski saying takdir berkata lain. Atau saking buruknya dia, hingga kita berubah menjadi orang yang lebih baik, demi tidak bersinggungan dengan orang-orang semacamnya lagi.
Ya, bagaimanapun, sebagai seorang yang pernah punya tempat spesial, apa yang dikatakan atau diperbuatnya pernah mengganggu keseimbangan hidup kita.
Coba ingat-ingat lagi (anjir, mengorek luka lama). Coba akui hal-hal baik apa yang ditularkan mantan lo. Atau luka macam apa yang pernah dia kasih, sehingga membuat lo menjadi seorang pribadi yang lebih baik. Semacam Thank You Note lah untuk mantan. Ga perlu lah disampaikan langsung. Cukup lo aja yang tahu.
Weitz, sebelum gue dituduh ngerusak hubungan orang, menurut gue, mantan tuh hidup dalam kenangan. Dan tempatnya memang dalam kenangan. Mengenang mantan ga berarti ingin kembali menjalani hari-hari bersama mantan. Sama seperti mengenang masa pemerintahan Soeharto. #eh
Mantan (gebetan) gue, ya, bahkan bukan mantan pacar, membuat gue jadi gila komik. Ini hal baik bukan ya? Haha. Buat gue baik sih. Karena pada akhirnya komik itu menjadi salah satu hal yang membantu gue tetap waras di tengah kegilaan dunia. Sekarang tentunya gue jauh lebih cinta komik daripada dia. Setiap ingat dia gue ingat komik. Setiap ingat komik, ya gue baca komik saja langsung, tanpa ingat dia. Jangan lebay ah!
Mantan gue membuat gue mengerti apa artinya “selesaikan urusanmu dengan semua cinta lama sebelum melangkah dengan yang baru” saat dia tiba-tiba ngajak gue main layangan setelah lama ga bertemu, satu minggu sebelum dia menikah. Yap, mantan gue bahkan masih mengajarkan sesuatu di saat dia sudah jadi mantan. Tapi ya, beneran deh, selesaikan semua urusanmu dengan masa lalu. Ga harus mantan, bisa jadi trauma masa kecil, dendam karena merasa diasingkan orang tua, dan bahkan persoalan-persoalan sepele. Selesaikan semua urusan (permasalahan) lama, karena kalau tidak, ada kemungkinan ia akan mengganjal urusan yang baru. Ga percaya? Coba tanya sama Mary Watson.
Mantan gue yang lain mengajarkan gue tentang cinta. Cinta sejati yang sudah nyangkut di hati dan ga akan pergi kemana-mana, karena semua maaf diciptakan hanya untuknya, dan semua penyesalan tetap ada, meski telah berusaha untuk memberikan yang terbaik. Sayangnya, hal itu membuat gue sadar kalau yang gue rasakan ke dia itu bukan cinta. Haha. Putus. Lo. Gue. End.
Yah begitulah mantan. Banyak hal baik yang sudah dia lakukan, tapi berujung pada perpisahan dan terlupakan. Dilupakan. Disudutkan di pojok ingatan. Karena partner yang baru sudah menguasai semua tempat. Nanti, saat kamu mendengar sebait lirik lagu yang membuatmu teringat akan dia, kunjungilah dia di pojok ingatan. Sekedar menyapa, “hai, terima kasih sudah pernah berbagi waktu dengan saya.”
Post Comment
Post a Comment