Top Social

Dongeng dari Negeri Bola [REVIEW]

October 30, 2017

Seperti tergambar dari judulnya, membaca buku ini terasa seperti mendengarkan penulisnya mendongeng, dus judul buku ini. Setiap tulisannya terasa dekat, padahal saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di tanah Inggris.

Dalam setiap cerita, kita akan diajak masuk perlahan ke inti cerita, disajikan berbagai detail dan latar belakang kisah, hingga akhirnya kita percaya, "ah iya, memang benar pasti begitu ceritanya", untuk kemudian dihempas dengan satu punchline yang membuat kita ingin teriak "GRAAH!" Saya suka sekali dengan gaya menulisnya. Saya harus lebih banyak membaca tulisan Mas Dalipin, untuk mempelajari gaya menulisnya.

Dalam sebuah cerita yang berjudul "Hilangnya Sebuah Kepastian", penulis mengisahkan tentang gemparnya media Inggris saat Sir Alex Ferguson memutuskan untuk mundur dari posisinya di Manchester United. Diceritakan oleh penulis bahwa "program khusus dan eulogi ditayangkan layaknya iringan prosesi kematian", padahal "bahkan yang meninggal pun tak pernah mendapat porsi pemberitaan sebesar ini."


Kita diajak untuk menyelami pentingnya sosok Ferguson di Inggris, melalui berbagai prestasinya, sifatnya yang kontroversial - yang kadang seperti "tidak berperikemanusiaan", namun di sisi lain, banyak dihormati oleh rekan-rekan sesama pelatih di berbagai negara.

Tapi, tiba-tiba, 

"Berulang kali di musim semi saya mengantar istri yang juga pendukung Manchester United, untuk menonton pertandingan (berpesta) di Old Trafford di akhir-akhir musim kompetisi. Menagih janji kepastian dari Sir Alex.
Berjalan dari stasiun Metro Old Trafford menyusuri Brian Statham Way lalu ke Warwick Road, saya bisa merasakan degup jantungnya yang semakin keras. Ayunan langkahnya semakin cepat dan tak sabar. Begitu sampai ke Sir Matt Busby Wat dan tenggelam dalam lautan manusia berjersey merah di gerbang Old Trafford, genggaman tangan istri saya semakin menguat.
Lucunya, ia tidak pernah bisa mengingat secara rinci apa yang kemudian terjadi. Ia seperti trance dan ekstase menonton pertandingan. Ia tak ingat lagi betapa suaranya serak karena terus menerus bersorak. Kegembiraan yang terlalu meluap. Janji-janji yang tuntas terpenuhi. Saya sendiri? Cukuplah saya bahagia dengan kegembiraan yang tergurat di wajah istri saya. Kenangan yang akan saya bawa selama hayat di kandung badan.
Terima kasih, Sir Alex."

WAIT, WHAT??!!


Sebagai seorang yang muka Rambo, hati Rinto, saya langsung lupa selupa-lupanya sama Sir Alex dan malah terbayang-bayang wajah bahagia istri penulis. Haha. 

Keromantisan penulis memang sudah bisa dideteksi dari pengantar, "Untuk Buah dan Ifkar: Ini petualangan kita bertiga", tapi.. tapi.. tapi... Hhh... Jiwa romantis saya pun memaksa saya untuk menulis ulasan ini.

Terima kasih Mas Dalipin sudah mengajak kami merasakan petualangan kalian.



p.s. Sebenarnya ini ulasan singkat saja, tapi ternyata panjang juga. Will update it as soon as I got time with a more detailed review.
Post Comment
Post a Comment