Top Social

Selesai dengan Diri Sendiri

October 27, 2017

Selama belasan tahun menempuh pendidikan jalur formal, saya selalu menjadi salah satu yang paling muda dengan prestasi yang cukup memuaskan. Beberapa kali tentunya saya “kecemplung” masuk ke lingkungan di mana saya berada di baris paling belakang, namun saya tidak pernah merasa putus asa, karena saya memiliki rasa percaya diri yang tinggi bahwa saya bisa melampaui mereka dan pada akhirnya itu hampir selalu terbukti.

Kepercayaan diri tersebut juga membuat saya tidak pernah memiliki keraguan jika ditawari kesempatan untuk berpindah ke tempat yang baru atau menjelajah ke berbagai bidang baru. Bahkan saya selalu mencari-cari kesempatan itu, untuk memulai semuanya dari nol dan dengan penuh keyakinan siap melangkah ke atas.

Saya bahagia dengan semua hal baru yang bisa saya pelajari. Saya bahagia berada di tempat baru dan melihat berbagai tingkah manusia yang ajaib. Meski sempat “mengemis” beasiswa dan menghadapi kesulitan di sana-sini, saya tak pernah kehilangan keyakinan kalau saya pasti bisa dan, mungkin dengan penuh kesombongan, saya tak pernah merasa takut.


Tahun berganti, kegagalan yang biasanya berujung pada kesuksesan, kini malah berujung pada kegagalan yang lain. Saya semakin malas untuk memulai sesuatu yang baru, semakin malas untuk mencari tahu, semakin malas untuk menikmati kehidupan. Seperti ada beban yang saya tidak tahu apa.

Hingga suatu hari saya teringat pada tulisan Ilman Akbar yang pernah saya baca beberapa tahun yang lalu, “Hanya yang Telah Selesai dengan Dirinya yang Bisa Berbuat untuk Orang Lain” (Ilman juga menulis tentang tulisan ini di blog postnya yang lain, “Tertohok oleh Postingan di Blog Sendiri: Saya harus Selesai dengan Diri Sendiri!”). Saat pertama kali membaca tulisan ini saya hanya mengangguk-angguk dan berpikir, “Ya ya ya, benar juga ya.” Meski tidak saya resapi dalam-dalam saat itu, namun ternyata tulisan itu meninggalkan kesan yang cukup dalam untuk saya.

Ilman mengutip Ibu Kasiyah M. Junus dalam tulisan itu, “Hanya yang sudah selesai dengan dirinya yang bisa berbuat untuk orang lain.”

“Saat kita sudah tidak lagi dipusingkan dengan urusan remeh-temeh seperti 'lagi BT', urusan 'berantem sama pacar', urusan 'mau nongkrong dimana malam ini', urusan 'gimana caranya biar nilai ujian bagus', dan yang sejenisnya, artinya kita sudah selesai dengan diri kita sendiri. Saat kita sudah 'selesai dengan diri kita sendiri', kita tidak akan terlalu banyak memikirkan masalah diri kita sendiri lagi. Kita pun mulai memikirkan masalah-masalah di sekitar kita.”

Beberapa tahun yang lalu, saya sudah selesai dengan diri saya sendiri. Saya tidak ragu untuk mulai menggarap berbagai hal baru karena saya yakin saya bisa dan pada akhirnya itu akan bermanfaat bukan hanya untuk saya dan keluarga tetapi juga untuk banyak orang.

Tidak sekali dua kali saya menangis karena memikirkan kondisi tanah air yang sepertinya kacau balau tak ada harapan. Sedikit bantuan coba diberikan ke kanan kiri. Lengan baju sudah tersingsing, siap mengerjakan apa saja demi hajat hidup orang banyak. Saat itu saya sudah selesai dengan diri saya sendiri.

Lalu saya pun dihadapkan dengan situasi yang sama, seperti saat Ilman tertohok dengan tulisannya sendiri di masa lalu. Saya mulai membangun rumah tangga. Belum sempat belajar menjadi istri sepenuhnya karena kebetulan LDR cukup lama, saya sudah harus bersiap untuk tugas baru sebagai seorang ibu.

Dari yang sebelumnya mengurus diri sendiri saja masih tidak becus, kini harus menghadapi tanggung jawab untuk mengurus suami dan anak. Dari yang terbiasa hidup sendiri di negara orang, lalu “terpaksa” pulang dan menetap. Tiba-tiba hidup saya menjadi penuh dengan berbagai urusan keluarga kecil saya.

Perasaan yang sebelumnya begitu sensitif setiap mendengar kabar dunia yang kacau balau kini mulai kebal. Peperangan yang sebelumnya saya tentang, kini sudah saya maklumi sebagai satu kenormalan di dunia ini. Saya menjadi orang yang abai, yang menjalani hidup hanya untuk dirinya semata.

Kebiasaan saya untuk mondar-mandir masuk ke bidang baru pun tidak membantu, karena kini, di saat kawan-kawan sudah sampai di posisi yang  cukup tinggi dalam karirnya masing-masing, saya masih berada di rantai makanan paling bawah, bahkan saya sempat bekerja di perusahaan yang salah satu C-nya lebih muda dari saya. Haha. What an irony.

Saya yang biasanya paling semangat untuk balas membuktikan saat diremehkan, kini hanya berusaha bertahan sebisanya dan melupakan kesenangan “balas dendam” itu.

Sepertinya saya sudah harus mulai menginjak gas dan menyelesaikan segala urusan ini. Karena apalah artinya hidup kalau cuma menuh-menuhin bumi doang.
Post Comment
Post a Comment