Top Social

Hentikan.

October 9, 2018


Sesungguhnya aku tak suka memotong orang lain saat mereka bicara. Juga tak suka harus menyiapkan  rentetan 10-20 kalimat yang akan meluncur tanpa henti begitu lawan bicara hendak menarik napas.

Tapi aku bisa apa?

Mereka selalu berbicara. Tanpa henti. Tanpa memberikan kesempatan.

Diskusi atau debat kusir?


Bukan sekali dua kali terjebak dalam situasi seperti ini. Apa itu kepala dingin?

Kesal.

Aku terbiasa antre sejak kecil. Tapi apakah di medan itu ada tempat untuk orang-orang yang mengantre? Mereka terus berdesakan, mendorong, tak sabar menyuarakan pendapat yang hanya membuatku dongkol dalam hati, "Hhh. Kalau itu semua orang juga tahu."


Diskusi atau debat kusir?

Tak cukup rentetan kalimat tanpa henti, menjelaskan apa yang sudah jelas, mengaku-aku apa yang bukan miliknya, akhirnya nada suara pun mulai lebih tinggi dari orang Batak.

Karena solusi persoalan diskusi (atau debat kusir?) dimiliki oleh orang-orang yang menarik segenap urat untuk menjadi yang paling didengar.

Tak heran banyak persoalan yang berujung ruwet. Kita salah mengambil kesimpulan. Kita mendengarkan orang yang salah.

Hentikan.

Atau, baiknya aku menarik diri dan menikmati duniaku sendiri. Memperbaiki dalam diam.

Tapi aku terlalu peduli.

Aku tahu dibutuhkan kolaborasi untuk memaksimalkan hasil. Sayangnya, hanya yang bersuara paling lantang yang akan didengar.

Ada yang mau bergantian berbicara denganku?
Post Comment
Post a Comment