Top Social

Saya Bingung

June 20, 2020

Kejadian itu rasanya masih sangat jelas di ingatan. Saya berusia sekitar sembilan tahun. Waktu itu sedang perayaan Hari Kemerdekaan, papa saya sedang bercengkrama dengan satu orang tetangga, saya lupa bagaimana awalnya, tapi percakapan antara mereka sampai ke titik ini,

Papa: Kalau ga percaya saya rajin salat, lihat aja sarung saya. Coba kak, tolong ambilin sarung papa.
Saya: (Lari dari lapangan ke rumah, demi mengambil sarung. Lalu saya kasih sarungnya ke papa saya.)

Percakapan mereka ternyata masih berlanjut,




Papa: Beneran saya bisa gantiin ustad U ceramah, coba kak, pergi ke rumahnya ustad U, bilang kalau hari Jumat nanti ga bisa ceramah biar papa yang gantiin.
Saya: (Lari dari lapangan ke rumah Ustad U. Saat itu sepertinya sedang ada acara di rumah Ustad U, rumahnya penuh banget sama orang-orang, terus saya minta ketemu langsung sama ustad nya dan menyampaikan pesan papa saya.)

Bodoh sekali bukan? Melihat ke belakang, seharusnya saya mengerti kalau papa saya hanya bercanda.

Saya pikir kebodohan saya tidak akan terulang seiring dengan bertambahnya usia. Tapi nyatanya sampai saat ini saya masih sering sekali kebingungan, apakah orang ini sedang bercanda, atau dia sedang mengatakan yang sebenarnya?

Kadang saya dengar orang berbicara tidak baik tentang temannya, "kepribadiannya jelek, dia juga jorok orangnya." Saat mendengar sih saya paling ikut-ikut ketawa saja, tapi tak lama kemudian, orang ini berncana menikah, saya pun mulai berpikir, "Apa?! Dia akan menikah? Apakah saya harus ngobrol dengan calon istrinya? Kasian nanti dia ga tau calon suaminya ternyata sejorok itu."

Tenang, pernikahan mereka masih awet sih sampai sekarang, minimal dari luar lah. Haha.

Saya juga ga ngerti sama orang yang suka ngeluh ngomongin jelek, tapi begitu ketemu sama orang yang dia "gosipin" itu langsung akrab melebihi keakraban saya dengan para sahabat. WHYYYYY??

Saya juga kurang suka pertikaian. Selama saya masih bisa kabur, saya akan kabur.

Sifat ini bertolak belakang dengan sifat partner saya. Dia sangat suka pertikaian, apalagi memancing keributan. Bicaranya banyak sarkas, banyak double meaning juga di sana sini. Saya juga ga ngerti sih kenapa saya bisa tahan sama dia.

Jangan-jangan saya disantet.

Ngomong-ngomong santet, saya baru tahu sekitar dua minggu lalu kalau susuk itu ada bentuk nyatanya, jadi ada kayak jarum-jarum kecil gitu yang dimasukin ke muka, atau bagian manapun yang di-susuk-i. Dan itu keliatan di X-ray!!

Selama ini saya pikir susuk itu hanya sekedar orang-orang yang terlalu percaya sama dukun, ternyata beneran ada jarum!! Jarum kecil-kecil dimasukin ke muka! Itu kenapa ga sakit ya?

Terus juga, katanya memang benar tuh dokter-dokter bedah dan dokter gigi suka kesulitan melakukan operasi untuk orang-orang yang punya susuk.

MINDBLOWN!!

Jarum kecil-kecil itu susuk! Kelihatan di X-ray!

Gileeeeee...

Bagi mereka yang lumayan dekat atau sempat ngobrol sama saya dua minggu lalu, pasti paham benar betapa terkejutnya saya mengetahui fakta ini dan betapa bersemangatnya saya menyebarkan hal ini.

Dan ya, tulisan ini hanyalah sebuah alasan untuk saya berbagi pengetahuan tentang susuk.

Sekian, dan tidak terima susuk.
Post Comment
Post a Comment