Top Social

/esvi:ai/

Thank You

February 24, 2019


I've always believe that I am more of a lucky person instead of a diligent one. I have always been surrounded by talented and kind people, so that I have all kind of opportunities to get better and move forward.

In this post, I'd like to thank some of them. The most memorable encounters that bring me to where I am today.

Let's start from high school. I'd like to thanks my extended family, especially one of my aunt and grandma, who provided me with some kind of living cost scholarship(?). They paid for my meals, pocket money, stuff that I need for school, and so on and so forth, so that I could live comfortably in Bandung at that time. My aunt (and his husband) also came to Bandung and spent some time with me, talking about my education and life. It was a small thing for them, but it meant a lot for me at that time.

I went to Pribadi Bandung for my high school. There I met lots of dedicated teachers, not saying that every one is good, but lots of them are. Being one of the stupidest in class motivated me to keep up with the rest of my friends. I am thankful for most of the teachers there, especially Mr. Musa and Mr. Bakis. Sorry that I can't make it to the international olympiad. Still regretting it 'till now.

Mandi

February 17, 2019

Saya suka banget mandi. Bukan mandi berendam, cukup pakai shower, atau gayung, apapun lah, yang bisa membantu membasuh air ke seluruh tubuh, Dari ujung kaki sampai ujung kepala. 

Tapi saya bukan tipe yang suka berlama-lama di kamar mandi. Kecuali ada shower air hangat dan kamar mandinya terpisah (atau minimal bersekat) dengan toilet.

Kalau saya sedang lelah, tapi masih banyak yang harus dihadapi, saya mandi. 
Kalau sedang suntuk, saya mandi.
Kalau sedih, pengen nangis tapi ga pengen menimbulkan pertanyaan dari banyak orang, saya mandi.
Kalau abis banyak nangis dan harus siap-siap melanjutkan hidup, ya mandi juga.
Kalau ada hal-hal yang diinginkan, tapi ga bisa tercapai, mari beranjak ke kamar mandi.
Bahkan kalau bingung mau ngapain, ya mandi saja dulu.

Hentikan.

October 9, 2018


Sesungguhnya aku tak suka memotong orang lain saat mereka bicara. Juga tak suka harus menyiapkan  rentetan 10-20 kalimat yang akan meluncur tanpa henti begitu lawan bicara hendak menarik napas.

Tapi aku bisa apa?

Mereka selalu berbicara. Tanpa henti. Tanpa memberikan kesempatan.

Diskusi atau debat kusir?

On the Platform

June 23, 2018

"Jump. How it feels like?" my mind started to wander.

"Nah. I just need to step. Two steps. Will it hurt? But I don't like to get hurt."

"Maybe they're wrong. Maybe, there is nothing in the afterlife. There is no afterlife. We will just disappear."

Breakup Formula

January 28, 2018


You were crying. Right in front of me.
Begging for love.
Her love. 

You were crying. Right in front of me.
When it's time for me to leave.
When it's time for you to cry for me.
For my love.

Dongeng dari Negeri Bola [REVIEW]

October 30, 2017

Seperti tergambar dari judulnya, membaca buku ini terasa seperti mendengarkan penulisnya mendongeng, dus judul buku ini. Setiap tulisannya terasa dekat, padahal saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di tanah Inggris.

Dalam setiap cerita, kita akan diajak masuk perlahan ke inti cerita, disajikan berbagai detail dan latar belakang kisah, hingga akhirnya kita percaya, "ah iya, memang benar pasti begitu ceritanya", untuk kemudian dihempas dengan satu punchline yang membuat kita ingin teriak "GRAAH!" Saya suka sekali dengan gaya menulisnya. Saya harus lebih banyak membaca tulisan Mas Dalipin, untuk mempelajari gaya menulisnya.

Dalam sebuah cerita yang berjudul "Hilangnya Sebuah Kepastian", penulis mengisahkan tentang gemparnya media Inggris saat Sir Alex Ferguson memutuskan untuk mundur dari posisinya di Manchester United. Diceritakan oleh penulis bahwa "program khusus dan eulogi ditayangkan layaknya iringan prosesi kematian", padahal "bahkan yang meninggal pun tak pernah mendapat porsi pemberitaan sebesar ini."

Selesai dengan Diri Sendiri

October 27, 2017

Selama belasan tahun menempuh pendidikan jalur formal, saya selalu menjadi salah satu yang paling muda dengan prestasi yang cukup memuaskan. Beberapa kali tentunya saya “kecemplung” masuk ke lingkungan di mana saya berada di baris paling belakang, namun saya tidak pernah merasa putus asa, karena saya memiliki rasa percaya diri yang tinggi bahwa saya bisa melampaui mereka dan pada akhirnya itu hampir selalu terbukti.

Kepercayaan diri tersebut juga membuat saya tidak pernah memiliki keraguan jika ditawari kesempatan untuk berpindah ke tempat yang baru atau menjelajah ke berbagai bidang baru. Bahkan saya selalu mencari-cari kesempatan itu, untuk memulai semuanya dari nol dan dengan penuh keyakinan siap melangkah ke atas.

Saya bahagia dengan semua hal baru yang bisa saya pelajari. Saya bahagia berada di tempat baru dan melihat berbagai tingkah manusia yang ajaib. Meski sempat “mengemis” beasiswa dan menghadapi kesulitan di sana-sini, saya tak pernah kehilangan keyakinan kalau saya pasti bisa dan, mungkin dengan penuh kesombongan, saya tak pernah merasa takut.